Registrasi
Panduan Berbelanja di KALBE Store

Butuh Bantuan? Hubungi 1500-880

Troli
0
0 Produk di Troli Anda

Tidak ada produk di Troli Belanja

Lihat Promo lainnya

Awas Silent Killer, Ini 5 Metode Screening Kanker Serviks

Kesehatan
July 25, 2019

Bagikan :

Kanker leher rahim atau serviks merupakan satu dari jenis kanker yang banyak diderita perempuan di dunia. Penderita biasanya merupakan perempuan di atas usia 15 tahun. Setiap tahun, ada sekitar 600.000 kasus kanker serviks ditemukan di seluruh dunia. Bahkan setengah dari penderitanya meninggal dunia dalam jangka waktu satu tahun tersebut.

 

Di Indonesia, kanker serviks juga merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak menyebabkan kematian pada perempuan. Tingginya angka kematian ini adalah karena kurangnya edukasi akan pencegahan dan penanggulangan kanker serviks.

 

Mencegah dan Menanggulangi Kanker Serviks

 

Tidak seperti kanker pada umumnya yang terjadi akibat mutasi atau pertumbuhan sel abnormal, kanker serviks disebabkan oleh virus Human Papilloma atau HPV. Umumnya, HPV ditularkan melalui hubungan seksual dan - dalam kasus yang amat jarang - melalui toilet kotor. Virus HPV sendiri memiliki beberapa subtype yang dibedakan menjadi dua jenis yaitu high risk dan low risk. Jenis high risk subtype 6, 18, 31, 33 lah yang berisiko menjadi kanker serviks.

 

HPV dapat memasuki dan menyerang sel-sel serviks sehingga menimbulkan perubahan fungsi dan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, deteksi dini kanker serviks menjadi penting untuk dilakukan oleh perempuan, sebab infeksi HPV membutuhkan 10-30 tahun masa inkubasi sampai menunjukkan gejala. Berikut ini merupakan cara screening atau tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui gejala kanker serviks sejak awal. 

 

1. Inspeksi visual dengan asam asetat/IVA

 

Untuk pemeriksaan IVA, dokter akan memasukkan spekulum atau alat yang berfungsi untuk melebarkan liang vagina dan mendapatkan serviks. Selanjutnya dokter akan mencucukkan asam asetat yang telah diencerkan (5%) ke serviks, dan menunggu selama 30-60 detik untuk penilaian. Apabila terdapat warna putih, maka perempuan tersebut memiliki resiko kanker serviks dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan. 

 

Beberapa sumber menunjukkan sensitivitas IVA hampir sama dengan pap smear, bahkan beberapa lebih tinggi. Sayangnya, tes ini juga memiliki kekurangan yaitu spesifikasi yang lebih rendah dari pap smear sekitar 82%. Artinya apabila hasil positif belum tentu kelainan sel berubah ke arah ganas, bisa jadi hanya akibat radang sehingga dapat menyebabkan over-treatment. 

 

Tes IVA sebenarnya sangat cocok bagi Negara-negara berkembang. Sebab akses terhadap fasilitas kesehatan laboratorium yang memiliki ahli patologi anatomi masih terbatas. Selain itu harga asam asetat sangat murah dan mudah didapat, serta tes dapat dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan yang telah dilatih. 

 

2. Pap smear konvensional

 

Pada metode pap smear konvensional, tim dokter akan memasukkan spekulum ke dalam vagina. Selanjutnya sampel sel serviks akan diambil menggunakan bantuan spatula atau sikat yang digesekkan pada area luar maupun dalam serviks. Hasil sampel kemudian akan dikirim ke laboratorium agar sel-sel dapat dipelajari dengan bantuan mikroskop.

 

3. Pap smear berbasis cairan / LBC

 

Perbedaan antara pap smear konvensional dan LBC terdapat pada cara pemindahan spesimennya. Lendir serviks konvensional langsung dioleskan, dipindahkan ke kaca benda, dan diberi pewarna papanicoulou. Sedangkan pada pap smear berbasis cairan spesimen ditampung di dalam botol berisi cairan, lalu ada proses menggunakan mesin untuk memindahkan spesimen ke kaca benda.

 

4. HPV DNA Genotype

 

Tes HPV mengidentifikasi adanya virus HPV dengan teknik PCR. Teknik PCR dapat mengenali DNA virus HPV, bahkan dengan teknik hibridisasi tes HPV dapat mengenali genotype virus. Baik jenis yang menyebabkan kanker serviks ataupun yang menyebabkan kutil kelamin. Dokter juga akan mendapatkan informasi apakah infeksi HPV ini menetap jika ditemukan HPV genotype yang sama dalam 2 tahun berturut-turut.

 

Tes HPV memiliki sensitivitas yang lebih baik daripada tes yang lainnya. Sehingga pemeriksaan HPV dapat membenahi hasil negatif ‘palsu’ pada pemeriksaan pap smear yang dapat terjadi akibat kesalahan pengambilan bahan dan deteksinya.

 

Sayangnya, banyak perempuan yang tidak melakukan pemeriksaan dini kanker serviks. Alasannya karena merasa malu, enggan disentuh tenaga medis terutama yang berlawanan jenis, atau tidak nyaman pada proses pemeriksaan. Untuk itu, kini sudah hadir Gynpad, metode baru untuk melakukan screening. 

 

5. Gynpad

 

 

 

 

Gynpad merupakan produk untuk skrining kanker serviks berbasis tes HPV yang dilakukan sendiri. Penggunaan Gynpad sangat mudah, seperti menggunakan pantyliner biasa. Anda cukup menggunakan selama 6-8 jam untuk mendapatkan sampel. Sampel yang ditampung oleh Gynpad pantyliner selanjutnya dikemas dan dikirimkan kepada laboratorium rujukan. Dengan menggunakan Gynpad, privasi Anda tetap terjaga, nyaman, dan hasil yang akurat. Saat ini Gynpad sudah tersedia di KALBE Store. Anda cukup klik di sini untuk melakukan pemesanan self- screening kit Gynpad.

 

Salam,

KALBE Store

 

 

 

Sumber:

klikdokter.com (1) (2) (3) (4)

Tinggalkan pesan

Cek Ketersediaan Produk

Cek ketersediaan produk di area anda terlebih dahulu sebelum tambah ke keranjang belanja.

CEK KETERSEDIAAN PRODUK

Pilih Alamat Anda

Lanjut masukkan produk ini ke keranjang belanja anda.